02 Desember 2009

Seni Kungfu Jadi Komoditas Komersil Di Negeri Cina



Karena film-film kungfu legendaris dari Hong Kong dan Hollywood, banyak orang membayangkan Shaolin sebagai sebuah kuil tenang dengan biksu-biksu yang bermeditasi dan berlatih bela diri.

Tetapi dengan terbukanya pasar ekonomi Cina yang terus bergulir dengan cepat, Kuil Shaolin Kungfu telah berubah menjadi sebuah bisnis komersial.

Gunung ini adalah rumah Kuil Shaolin kungfu yang terkenal itu. Dari jauh, ia tampak seperti wajahnya di film-film; sebuah kuil terpencil yang misterius. Tetapi, gambar ini segera berubah drastis ketika Anda melihatnya dari dekat. Bus-bus yang dipenuhi turis dan toko-toko suvenir adalah wajah baru Kuil Shaolin.

Empat tahun lalu, kuil shaolin kungfu ini mengalami renovasi senilai tujuh juta dolar supaya bisa menerima 10 ribu turis per hari. Seni bela diri yang berasal dari kuil ini sekarang diajarkan di sekolah-sekolah komersil di sekitar kuil, seperti Shaolin Epo.

Kepala sekolah Shaolin kungfu Epo, Li Shaozong yang berumur 50 tahun, menyatakan bahwa kungfu telah mengalami banyak perubahan di Cina.

“Seni bela diri berubah seiring dengan kemajuan masyarakat. Di jaman dulu, latihan bela diri ditujukan untuk melindungi diri sendiri dan mempertahankan negara dalam keadaan perang, juga untuk mempertahankan kebenaran. Itu adalah esensi bela diri di masa lampau. Tetapi pelan-pelan, pertarungan berubah menjadi sebuah pertunjukan artistik.”

Pada masa Revolusi Kebudayaan di masa Mao, dari 1966 sampai 1976, bersama dengan bentuk-bentuk praktek agama lainnya, kungfu dilarang.

Kini, Sekolah Bela Diri Shaolin kungfu Epo mempunyai lebih dari enam ribu siswa dari seluruh Cina dan bahkan dari seluruh dunia.

Waktu istirahat, pengeras suara di sekolah itu menyiarkan lagu-lagu pop dan informasi edukatif untuk para muridnya. Ini sangat berbeda dari ketika Liang Shaozong belajar kungfu dari ayahnya.

“Kungfu tempo dulu diajarkan di halaman rumah. Paling banyak 10 orang bisa diterima. Mereka yang sudah diajar sebelumnya akan mengajar murid-murid angkatan berikutnya. Tetapi dengan banyaknya orang yang ingin belajar seni bela diri, sistem ini tidak praktis lagi.”

Perbedaan besar lainnya adalah pada uang sekolahnya.

Dulu, para siswa yang belajar shaolin kungfu hidup dari bercocok tanam, dan dilatih untuk menghindari keterikatan pada dunia materi.

Praktek kungfu Shaolin tidak dapat dipisahkan dari ajaran Buddha Zen.

Tetapi, sekarang para murid harus membayar mahal untuk belajar kungfu Shaolin, hampir sebesar uang kuliah di universitas.

10 ribu yuan atau lebih dari 16 juta rupiah itu lebih besar daripada rata-rata pendapatan tahunan seorang petani di China.

Meskipun biaya yang tinggi ini, pendidikan kungfu Shaolin adalah sebuah bisnis yang popularitasnya sedang melejit. Di Dengfeng, kota kecil terdekat dari Kuil Shaolin, ada lebih dari 80 sekolah kungfu dengan 40 ribu lebih murid.

Karena kompetisi untuk mendapatkan pekerjaan semakin ketat di China, ketrampilan bela diri dilihat oleh banyak orang, seperti ibu Wang Li, sebagai nilai tambah bagi pendidikan anaknya.

Di halaman depan Sekolah Seni Bela Diri Shaolin Epo, delapan ratus siswa sedang mempersiapkan pertunjukan mereka di sebuah Expo di Guangzhou. Untuk pertunjukan ini, kepala mereka akan digunduli, dan mereka akan mengenakan jubah kuning Shaolin untuk memunculkan wajah biksu-biksu kontemplatif dari Kuil Shaolin.

Tetapi mereka hanyalah anak-anak Cina, yang berharap bisa mengubah peruntungan mereka bersama dengan kungfu yang meraup keuntungan dari Cina yang sedang berubah.

asiacalling.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar