04 November 2009

Sejarah Awal Sholin



JIKA kita mendengar kata Shaolin Kungfu, maka biasanya pikiran kita akan membayangkan sosok seorang pendekar berbadan tegap, dengan rambut hampir pelontos dan terkadang dilengkapi pedang yang terselip di punggungnya. Tak lama kemudian, ciaaattt....!!! Maka musuh pun akan terkapar kena tendangan ataupun sabetan pedangnya. Anggapan itu memang benar adanya, karena pengertian shaolin sekarang memang seperti itu, yang sering kita saksikan dalam film-film kungfu Mandarin/Cina.

Padahal, menurut cerita sejarah, shaolin bukanlah pendekar seperti gambaran di atas. Shaolin dalam bahasa Mandarin artinya hutan muda atau hutan baru, jadi jauh sekali ya perbedaannya. Kenapa bisa demikian? Dikisahkan kaisar Hsiao Wei dari Dinasti Wei di kawasan Cina Utara, yang berkuasa antara 386-540 membangun salah satu kuil di Desa Zhengzhu, pegunungan Wuru, wilayah Songsan di Provinsi Honan. Saat kuil dibangun, ternyata daerah sekitar kuil itu cukup gersang, maka sang kaisar memerintahkan para pegawainya untuk menanam ribuan pohon baru, agar nantinya kuil itu kelihatan lebih sakral dan terkesan lebih agung dengan adanya pohon rimbun yang mengelilinginya.

Kuil tersebut selanjutnya digunakan para biarawan, untuk menerjemahkan aneka kitab suci kerajaan. Dan sang kaisar menamakan kuil itu dengan shaolin saja.

Sobat-sobat pasti bertanya, kok ada kungfunya segala atau shaolin kungfu, bagaimana ceritanya? Kisahnya begini... sekitar 540, Dinasti itu kedatangan pendeta Buddha dari India yang bernama Bodidharma. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta kaisar menerjemahkan kitab agama Buddha dari bahasa Sansakerta ke dalam bahasa Cina, dengan tujuan agar masyarakat Cina, juga mengerti tentang ajaran agama Buddha. Menurut kisah itu, ternyata telah terjadi perbedaan pendapat antara sang kaisar dengan pendeta itu. Sang kaisar menolak mentah-mentah keingan sang pendeta itu. Sang pendeta pun tidak putus asa, ia langsung menuju kuil untuk bertemu dengan kepala kuil yang bernama Fang Chang. Di sini, sang kepala kuil pun sama dengan kaisar, tidak melayani permintaan pendeta itu.

Karena ditolak, maka sang pendeta itu menuju salah satu gua untuk meditasi. Konon, hampir delapan tahun ia melakukan meditasinya. Sebab, kesungguhan dalam bermeditasi, sang pendeta konon bisa melubangi gua batu itu, hanya dengan tatapan matanya. Kehebatan dan kesaktian sang pendeta ini, akhirnya sampai juga ke telinga Fang Chang. Akhirnya, hatinya luluh dan ia mempersilakan pendeta itu masuk ke dalam kuil bergabung dengan para biarawan. Sambil menerjemahkan kitab sucinya itu, rupanya sang pendeta melihat keadaan fisik para biarawan yang loyo-loyo alias tidak bugar. Maka dengan inisiatifnya, para biarawan itu dilatih berolah raga setiap pagi dengan jenis olah raga khusus meningkatkan aliran energi atau chi. Dasar gerakannya diambil dari yoga India. Inilah cikal bakal dari gerakan shaolin kungfu yang kita kenal sekarang.

Sejalan dengan bergulirnya waktu, maka shaolin kungfu itu berkembang pula di kuil-kuil lainnya seperti di Fukien, Wu Tang, Mei Shan, dan Kwang Tung. Setelah kuil shaolin itu hancur karena diserang tentara Manchuria pada abad ke-16 semasa Dinasti Ching, maka sisa-sisa biarawan yang selamat menyebar ke daerah utara dan di sana mereka pun mengembangkan lagi perguruan shaolin kungfu serupa.

Murid shaolin kungfu diajari 172 jurus bela diri yang terdiri dari 100 jurus dasar, 36 jurus internal, dan 36 lagi jurus chikung (tenaga dalam). Semua jurus shaolin kungfu ini --untuk sampai mahir-- bisa dipelajari dalam kurun 3-4 tahun. Kini, shaolin kungfu sudah dipertandingkan dalam event-event akbar seperti di Asian Games, meskipun dengan memakai nama lain Wushu, atau memodifikasi gerakan lainnya.

newspaper.pikiran-rakyat.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar