01 Juni 2010

Bisnis spare part alat berat berprospek cerah

Seperti kendaraan commercial, harga alat berat dan spare part alat berat bervariasi sesuai dengan merk dan kualitas atau mutu serta kemampuan beroperasi alat tersebut contohnya merk alat berat komatsu. Untuk merk terkenal harga forklift parts biasanya lebih mahal karena disesuaikan dengan tehnologi yang menyertainya, biasanya teknologinya lebih ramah lingkungan dan daya tahan atau kualitasnya Meski pelaku di industri spare part alat di Indonesia sudah relatif banyak, pemain utama yang tergolong besar hanya beberapa. Di antaranya, PT Komatsu Indonesia (merek Komatsu), PT Caterpillar Indonesia (Caterpillar), PT Hitachi Construction Machinery Indonesia (Hitachi), dan produsen lainnya, dengan total kapasitas terpasang 5.000–6.500 unit per tahun. Sementara itu, komponen dan sub-komponen dengan total kapasitas terpasang 50.000 ton per tahun. Adapun alat berat yang dapat diproduksi di dalam negeri, di antaranya, excavator, bulldozer, motorgrader, dan dump truck. Total produksi spare part alat berat dengan berbagai spesifikasi tersebut, menurut laporan Indocommercial 2007, tercatat 4.789 unit atau naik 83% dari tahun sebelumnya. Melonjaknya produksi alat berat sepanjang tahun itu terutama karena pesatnya pertumbuhan sektor pertambangan, yaitu batu bara, perkebunan, kehutanan, dan sektor konstruksi, yang berdampak pada naiknya permintaan alat berat. Pada 2008, produksi masih tetap meningkat, meski kenaikannya tak setinggi pada 2007. Ini karena dampak krisis ekonomi global yang menyebabkan anjloknya ekspor berbagai produk pertambangan dan perkebunan. Secara keseluruhan, produksi alat berat nasional selama 2003–2008 tumbuh rata-rata 39% per tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan impor alat berat Indonesia selama 2003–2008 cukup tinggi, baik volume (naik 48%) maupun nilainya (66%). Pada 2003, nilai impor alat berat tercatat US$167 juta, dan terus meningkat sehingga per Agustus 2008 sudah mencapai US$833,7 juta. Jika dilihat dari negara asalnya, impor alat berat selama dua tahun terakhir paling banyak datang dari Jepang, Thailand, Singapura, Amerika Serikat, dan Cina. Di sisi lain, Indonesia pun mengekspor alat berat. Namun, menurut Indocommercial, ekspor itu sebagian diduga merupakan re-ekspor, terutama sejak pemerintah mengizinkan impor alat berat bekas (rekondisi). Masih menurut BPS, nilai ekspor alat berat Indonesia sepanjang 2003–2008 tumbuh cukup tinggi, yaitu 27,3%. Pada 2003, nilai ekspor alat berat tercatat US$46,6 juta, per Agustus 2008 sudah US$107,9 juta. alt

Cerahnya bisnis pertambangan, khususnya batu bara, mendongkrak kinerja pelaku bisnis spare part alat berat, seperti PT United Tractors Tbk. Pada 2008, United Tractors diperkirakan menguasai 45% pangsa pasar, disusul PT Trakindo Utama (25%), dan PT Hexindo Adiperkasa Tbk. (20%). Adapun 10% sisanya diperebutkan oleh 24 perusahaan lainnya.


Sumber :
(redaksi@wartaekonomi.com

Temukan semuanya tentang Bisnis & Pasang Iklan: Iklan & Jasa - Iklan Baris & Iklan Gratis – Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar