18 Oktober 2010

Bowling Lebih Dari Sebuah Olahraga

Menilik sejarahnya, boling dikenal di Kerajaan Mesir Kuno sejak peradaban sebelum Masehi. Di Indonesia sendiri, boling sebagai sarana olahraga terkenal pada 1950-an, yang dimotori para karyawan perusahaan minyak Amerika. Berangkat dari gaya hidup pekerja minyak itulah akhirnya bermunculan pusat olahraga boling untuk umum.

Dan kini, melihat semakin meningkatnya jumlah penggemar boling, para pemodal beramai-ramai meliriknya sebagai bisnis baru yang menjanjikan: boling sebagai olahraga sekaligus hiburan, terutama di pusat-pusat perbelanjaan. Beberapa tahun lalu, boling pernah menjadi primadona di kalangan pencinta olahraga. Pada tahun 1980-an, bermunculan tempat-tempat boling seperti di Ancol (Jakarta Utara), Hotel Kartika Chandra, Aldiron di kawasan Blok M (Jakarta Selatan), serta Monas (Jakarta Pusat). Namun, memasuki tahun 1985, boling seolah lenyap tak berbekas. Kalaupun ada, hanya tinggal di Ancol dan Blok M. Itu pun bermodalkan mesin kuno.

Hal lain yang tak mungkin luput menjadi perhatiannya adalah fasilitas cosmic bowling. Permainan boling di malam hari ini terbilang cukup banyak penggemarnya, sehingga PIN memberikan layanan tersendiri yang lebih seru. Bukan hanya lampu lintasan yang nantinya akan menyala, melainkan pula gugusan pin-pin yang siap dihantam para peboling itu.

Maklum, ini sudah menjadi tempat gaul, bukan lagi sarana olahraga semata, berkilah. Karena itulah, restoran, kafe, serta permainan biliar yang ada di dalamnya bisa dijadikan alat untuk menjaring fun bowler sekaligus konsumen baru, macam pasangan muda-mudi tadi.

Tiap hari, ada saja muda-mudi ABG ke arena sewa tempat olahraga ini,sekedar untuk mencari makanan ringan di dalamnya, sekalipun hanya untuk kongkow, bukan berniat serius bermain boling

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar